Kamis, 14 Januari 2010
Sabtu, 07 Maret 2009
Iklim Telah Berubah
JAKARTA, SENIN - Cuaca ekstrem, badai tropis yang semakin sering, dan pergeseran musim merupakan fenomena terjadinya perubahan iklim. Munculnya fenomena tersebut di Indonesia diakui merupakan indikasi bahwa perubahan iklim memang telah terjadi di Indonesia.
Ketua Program Studi Meteorologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Armi Susandi, yang dihubungi Minggu (15/2) di Jakarta, menegaskan, ”Itu sudah merupakan implikasi dari pemanasan global dan merupakan indikasi perubahan iklim.”
Pemanasan global, kata Armi, telah menyebabkan semakin tidak meratanya pola temperatur dan tekanan udara secara spasial (ruang). Perbedaan temperatur terjadi antara daerah subtropis dan daerah tropis, juga di daerah subtropis atau daerah tropis sendiri yang mengakibatkan terjadinya pergerakan udara. Semakin tinggi perbedaan tekanan udara akibat perbedaan temperatur semakin kencang angin yang ditimbulkannya dan dapat melahirkan badai pada lintang tertentu. Perbedaan temperatur yang ekstrem dapat memicu munculnya cuaca ekstrem.
Perhitungan musim tanam dan musim melaut tidak lagi presisi. Bencana pun selalu datang baik pada musim kemarau maupun pada musim hujan.
Terjadinya perubahan iklim ditegaskan dengan hasil analisa yang telah dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dari pengolahan data yang diambil selama 50 tahun. Kepala Bidang Analisa Klimatologi dan Kualitas Udara BMKG Soetamto, Jumat lalu di Jakarta, mengungkapkan, ”Ini untuk melihat kecenderungan yang ditunjukkan sebagai dampak perubahan iklim.”
Analisis tersebut menghasilkan lima peta kecenderungan periode 1951-2000 yang dikategorikan sebagai dampak perubahan iklim di Indonesia. Peta itu meliputi perubahan panjang musim, permulaan musim hujan, permulaan musim kemarau, curah hujan pada musim hujan, dan curah hujan pada musim kemarau.
Indikasi lainnya adalah meningkatnya intensitas siklon tropis yang menyebabkan gelombang tinggi. ”Siklon tropis di Samudra Hindia rata-rata setiap tahun terjadi 7-8 kali dalam rentang waktu lima bulan dari November sampai Maret. Jarang sekali mengumpul seperti empat siklon Charlotte, Dominic, Ellie, dan Freddy dalam masa kurang dari satu bulan,” kata Mezak Arnold Ratag, dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung, Sabtu.
Empat siklon tropis itu terjadi dalam jangka waktu 28 hari, antara 11 Januari hingga 7 Februari. Akibatnya, terjadi gelombang tinggi di perairan Indonesia, mulai dari perairan di barat Sumatera hingga di sebelah timur Nusa Tenggara.
Dampak perubahan iklim antara lain pulau tenggelam akibat naiknya permukaan air laut karena mencairnya es di kutub, ancaman kekeringan, banjir, ketidakpastian iklim, dan cuaca ekstrem. Kejadian-kejadian itu secara langsung akan mengancam penghasilan dan kehidupan nelayan, masyarakat pesisir, dan petani karena berdampak terhadap menurunnya produktivitas pertanian. Secara nasional, kondisi ini dapat mengganggu ketahanan pangan.
Nelayan bangkrut
Semakin seringnya terjadi gelombang tinggi akibat badai tropis, nelayan kini terlilit utang karena mereka praktis tidak berpenghasilan atau penghasilan mereka turun drastis. Mereka terpaksa beralih profesi menjadi penarik becak, buruh tani, kuli angkut, tukang batu, atau menganggur di rumah membantu istri. Mereka antara lain berada di Lamongan, Gresik, Jember, di Provinsi Jawa Timur, dan Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, serta Makassar Provinsi Sulawesi Selatan, juga di sejumlah daerah di Sumatera Utara.
Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Nelayan Seluruh Indonesia Cabang Lamongan Sudarlin kondisi saat ini sungguh berbeda dengan 10 tahun lalu. Saat ini cuaca semakin susah diprediksi. ”Kelihatannya biasa saja, ternyata di tengah laut gelombangnya besar dan angin kencang,” katanya.
Dari 7-10 hari melaut hanya 2-3 hari efektif untuk menangkap ikan dan hasilnya pun turun drastis. ”Di tempat pelelangan ikan di Brondong. Dulu paling tidak sehari bisa dibongkar 100 ton hingga 200 ton sehari, kini hanya 10 ton-20 ton saja,” katanya. ”Saat paceklik ikan dan cuaca buruk banyak nelayan menggadaikan perhiasan emas, barang elektronika, dan surat kendaraan bermotor, hingga mereka terjerat utang ke rentenir,” kata Sudarlin.
Di Jember, sejumlah 15.225 orang nelayan menganggur, dengan jumlah perahu 1.865 unit.
Selain terjerat utang dan kehilangan penghasilan, nelayan juga mempertaruhkan nyawanya saat melaut.
Hingga Kamis dua nelayan asal Lamongan, Miftahul Arif (19) dan Febriyanto (25) yang melaut 29 Januari lalu belum juga ditemukan. Kisah tiga nelayan Sungairujing, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean yaitu M Syafi'i (27), M Syahrul (27), dan Ridah (64) tak beda jauh. Sudah dua hari lewat mereka tak kembali. Diduga perahu mereka terbalik diempas ombak. Cerita serupa terjadi di berbagai tempat.
Menurut Guru Besar Oceanografi Institut Teknologi Bandung, Safwan Hadi, Oceanografi ITB mencatat ada 16 daerah di pantai selatan Jawa yang rawan terkena gelombang badai pasang.
Daerah itu antara lain Nusakambangan (Jawa Tengah), Palabuhan Ratu (Jawa Barat), Pamengpeuk (Jawa Barat), Manjungan (Jawa Tengah), Pananjung (Jawa Barat), Pacitan (Jawa Timur), dan Tanjung Pelindu (Jawa Timur). Selain itu juga berpotensi terjadi di Karang Taraje (Jawa Barat), Tanjung Purwa (Jawa Timur), dan Tanjung Tereleng (Jawa Barat).
Pulau tenggelam
Ketua Jurusan Geografi Lingkungan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Junun Sartohadi mengatakan, dengan garis pantai sepanjang 88.000 Kilometer dan 17.500 pulau, Indonesia sangat rawan dengan naiknya permukaan air laut. Pulau-pulau berketinggian satu meter di atas permukaan laut terancam tenggelam-jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan.
Menurut dia, dampak kenaikan permukaan air laut di Indonesia terlihat dengan meningkatnya intensitas dan frekuensi banjir di kota pesisir seperti Semarang, Surabaya, dan Jakarta.
Salah satu penelitian yang pernah dilakukan di Kota Semarang menunjukkan, saat ini rob semakin jauh memasuki daratan atau maju beberapa kilometer dari garis pantai.
Dalam lima tahun terakhir, di Jawa Timur terdapat lima pulau kecil terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut. Sejumlah pulau di Kabupaten Sumenep, Madura terancam tenggelam. Pulau-pulau itu adalah Pulau Gili Pandan, Pulau Keramat, Pulau Salarangan, dan Pulau Mamburit. Pulau Gresik Putih telah hilang sejak 2005.
"Luas Pulau Gili Pandan awalnya 1 kilometer persegi, sekarang tinggal 100 meter persegi, Pulau Keramat semula 700 meter persegi kini tinggal 50 meter persegi. Sedang Pulau Gresik Putih yang luasnya 500 meter persegi tak lagi tampak sejak tahun 2005," ucap Ketua Forum Masyarakat Kelautan dan Perikanan Jawa Timur Oki Lukito di Surabaya.
Sementara itu Armi menegaskan, perubahan iklim juga mengakibatkan terjadinya pergeseran musim hujan dan musim kemarau. ”Musim hujan semakin pendek tetapi intensitas hujannya amat tinggi.”
Kondisi itu menimbulkan masalah air kian parah. Kepala Desa Luwung, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Ahmad Kosasih, mengakui, 20 tahun terakhir kondisi lingkungan menurun drastis. Desanya krisis air setiap kali kemarau.
Sementara di musim penghujan, banjir melanda persawahan di pesisir. Mu'in (45), petani dari Desa Singakerta, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu bahkan harus menanam ulang hingga tiga kali pada musim tanam penghujan 2008. (ISW/ABK/ACI/SIR/BIL/CHE/ NIT/HEN/IRE/SEM/RUL/ROW/ NAW)
Sony Ericsson Keluarkan C510 Cyber-Shot Ponsel Anti Cemberut
JAKARTA, SELASA - Untuk melengkapi produk ponsel berkameranya, Sony Ericsson mengeluarkan C510 Cyber-Shot. Smile Shutter dijadikan fitur unggulan pada ponsel ini.
Smile Sutter adalah teknologi pintar yang dapat mendeteksi senyuman seseorang dan secara otomatis akan memberi tahu pemotret sebelum gambar diambil sehingga dipastiakn tak ada gambar seseorang yang cemberut. Hal tersebut dapat dilakukan karena C510 ini mempunyai sensor yang secara otomatis dapat mengenali objek yang tersenyum.
"Sensor pada Smile Suhtter dapat menangkap lengkungan senyum seseorang, dan secara otomatis akan mengambil gambar tersebut. Kalau objeknya diam cemberut maka sensor tidak akan mengambil gambar. Dapat juga dibilang, ini ponsel anti cemberut," terang Djunadi Head Of Marketing Sony Ericsson saat peluncuran di Jakarta, Selasa (3/3).
Sensor smile shutter ini dapat menditeksi senyuman sampai dengan radius 100 meter. Namun, semakin jauh objek yang ditangkap, maka senyuman dari objek harus semakin lebar juga. Sensor pada smile sutter juga dapat di non-aktifkan, sehingga kamera dapat berfungsi seperti biasa.
"Sony Ericsson memegang prinsip setiap orang bisa mengambil foto dengan cepat. Untuk itu, pada seri Cyber Shot di lengkapi dengan pelindung lensa slide-in.Tinggal buka slide-in pada lensa maka secara otomatis akan masuk ke dalam menu foto," jelas Djunadi.
Ponsel yang dibandrol dengan harga Rp 2,7-2,8 juta ini, juga dilengkapi dengan fitur unggulan lain, yaitu face detection, teknologi fokus yang dapat dilakukan hingga tiga wajah sekaligus. Fitur bahasa daerah Sunda dan Jawa juga telah ada dalam ponsel ini sehingga menu-menu dapat dipilih dalam dua bahasa tersebut selain bahasa Inggris sebagai default.
C510 memiliki kualitas kamera 3,2 MP dan layar sebesar 2.2 inchi. Memori internasl 100 MB, dan pilihan memori eksternal mini stick hingga 8 GB. Di bagian depan juga terdapat kamera VGA untuk melakukan video call melalui jaringan 3G/HSPA hingga 2 jam 20 menit dan waktu bicara sampai dengan 10 jam. Browser internet juga disediakan.
Pandangan tentang Mars
Pada tahun itu juga, Galileo menjadi yang pertama mengamati Mars melalui teleskop. Pada pertengahan abad ke-17, teleskop sudah cukup baik untuk bisa melihat penambahan dan penyusutan selubung es kutub Mars setiap musim, serta melihat bentuk seperti Syrtis Major, sebuah bidang lahan kecil nan gelap yang diduga merupakan laut dangkal. Astronom Italia Giovanni Cassini mampu mengamati bentuk-bentuk tertentu dengan cukup akurat untuk dapat menghitung rotasi planet tersebut. Hari di Mars, demikian dia menyimpulkan, empat puluh menit lebih lama daripada hari kita yang dua puluh empat jam; dia hanya meleset tiga menit. Sementara Venus, planet tetangga yang lebih dekat dan lebih besar ditutupi awan yang sangat tebal tak tertembus, Mars memperlihatkan permukaan yang cukup mirip dengan Bumi sehingga memancing spekulasi tentang keberadaan bentuk kehidupan di sana.
Teleskop yang semakin bagus, walaupun terkendala oleh efek kekurangjernihan akibat atmosfer planet kita yang tebal dan dinamis, memungkinkan Mars dipetakan dengan semakin terperinci, termasuk laut dan bahkan areal tanah becek, saat perubahan musim pada objek-objek yang diduga tetumbuhan tampak datang dan pergi seiring fluktuasi selubung es. Salah satu ahli kartografi planet yang bermata paling jeli adalah Giovanni Schiaparelli yang memakai kata Italia canali bagi garis penghubung yang dirasa menghubungkan bentuk-bentuk yang diduga tubuh air. Kata itu dapat diterjemahkan sebagai “saluran,” tetapi “kanal” lebih disukai masyarakat umum dan khususnya Percival Lowell, tokoh terkemuka di Boston yang kaya-raya, yang pada 1893 mendukung teori kanal sebagai artefak peradaban makhluk Mars. Sebagai astronom, Lowell adalah seorang amatir dan penggemar, tetapi bukanlah tukang debat kusir yang dangkal. Dia membangun observatoriumnya sendiri di atas tebing dekat Flagstaff, Arizona, dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter dan dalam kata-katanya sendiri, "jauh dari asap manusia"; gambarannya tentang Marsnya dianggap lebih baik daripada Schiaparelli, bahkan oleh astronom yang menentang teori orang Boston ini. Lowell mengajukan teori bahwa Mars adalah planet sekarat dengan penduduknya yang sangat cerdas sedang melawan kekeringan di dunia mereka dengan sistem kanal irigasi yang menyalurkan dan melestarikan persediaan air yang menipis di selubung kutub.
Pandangan ini, beserta Darwinisme Lowell yang kokoh, didramatisasi oleh H.G. Wells dalam salah satu novel fiksi ilmiah klasik, The War of the Worlds (1898). Makhluk Mars yang menyerang Bumi, walaupun tak sedap dipandang dan tak kenal ampun dalam bertindak, tetap diberi sedikit rasa iri dengki khas manusia. Dengan menggunakan peralatan canggih dan kecerdasan yang diasah oleh "tekanan yang mendesak akan kebutuhan", mereka dengan iri mengawasi langit ke arah "planet kita yang lebih hangat, hijau oleh tetumbuhan, dan kelabu oleh air, dengan atmosfer berawan yang menandakan kesuburan, dan di balik gumpalan meganya yang berarak terkilas bentangan negeri yang ramai dan laut sempit yang penuh armada kapal."
Dalam khayalan kolektif tentang Mars setengah abad berikutnya, planet tetangga kita itu bagaikan kembaran gelap Bumi ke mana berbagai persoalan, kekhawatiran, dan perdebatan yang duniawi direfleksikan. Isu kontemporer yang sedang marak seperti kolonialisme, kolektivisme dan pengurasan sumber daya alam oleh industri menemukan tempat subur untuk diungkap dalam beragam utopia tentang Mars. Suatu cabang kecil dalam fiksi ilmiah menampilkan Mars kurang-lebih sebagai alam baka Kristiani; novel Out of the Silent Planet karya C.S. Lewis (1938) menciptakan dunia yang suci, Malacandra. Seri roman Mars karya Edgar Rice Burroughs yang sangat populer menampilkan planet sekarat itu sebagai tapal batas yang keras dan dihuni banyak ras. Dalam kata-kata John Carter si pahlawan dari bumi, kehidupan di sana merupakan “perjuangan yang keras dan kejam untuk bertahan hidup.” Mengikuti Burroughs, fiksi-ilmiah majalah yang tanpa memedulikan kemungkinan perbedaan anatomi sering mengawinkan makhluk Bumi dan Mars, makhluk Marsnya biasanya tokoh wanita, sementara prianya agresor Arya nan gagah dari planet kita yang tangguh. Makhluk Mars yang berkulit cokelat dan bermata kuning yang abnormal dalam buku karangan Ray Bradbury, The Martian Chronicles (1950) yang puitis dan putus asa, punah dalam penjarahan kejam akibat serangan manusia.
Namun, semua khayalan fauna raksasa Mars—campuran kepala teramat besar hasil evolusi dengan tentakel amalgam berkulit dalam karya Wells; manusia merah jadi-jadian setinggi 5 meter milik wartawan Amerika Garrett Serviss; Thark yang berkulit zaitun, bertangan empat, dan tinggi 3 meter menurut Burroughs; hrossa yang mirip berang-berang dan pfifltriggi yang terampil milik Lewis; serta “makhluk seukuran beruang kutub” yang dibayangkan Carl Sagan mungkin menjelajahi permukaan Mars yang sangat dingin—tersingkir oleh foto-foto yang diambil Mariner 4 saat melintas pada 14 Juli 1965, dari jarak 10.000 kilometer dari planet itu. Bagian Mars yang tertangkap oleh sebuah kamera digital masa awal itu memperlihatkan tidak ada kanal, tidak ada kota, tidak ada air, dan tidak ada erosi atau pelapukan. Mars lebih mirip Bulan daripada Bumi. Kawah-kawah yang murni menandakan bahwa kondisi permukaan tidakla berubah selama lebih dari tiga miliar tahun. Planet yang sekarat itu telah lama mati.
Dua terbang lintas Mariner setelah itu, keduanya diluncurkan pada 1969, mengirimkan kembali 57 citra yang dalam bahasa siaran NASA, “memperlihatkan Mars memiliki banyak kawah, suram, dingin, kering, hampir tak ada udara, dan secara umum membahayakan bagi bentuk kehidupan seperti yang ada di Bumi”. Namun, Mariner 9, satelit pengorbit yang diluncurkan pada 1971, selama 146 hari mengirimkan 7.000 foto yang berisi topografi yang ternyata brutal dan beragam: gunung berapi, yang terbesarnya adalah Olympus Mons setinggi 20 kilometer dan rangkaian ngarai, Valles Marineris yang jika di bumi akan terentang antara Palembang sampai Jayapura. Wadi-wadi besar serta pulau-pulau berbentuk air mata menjadi bukti terjadinya banyak banjir besar di masa lalu Mars, mungkin air, yang merupakan unsur utama kehidupan yang ada di bumi. Pada 1976 dua wahana pendarat Viking tiba dengan selamat di permukaan Mars; untuk mencari jawaban tentang kehidupan di Mars dilakukan eksperimen kimia yang cerdas di dalam pesawat, dengan hasil ambigu yang kesimpulannya masih diperdebatkan hingga abad ke-21.
Sementara itu, keakraban geologis dan geografis kita dengan Mars semakin bertambah. Keberhasilan pengiriman wahana penjelajah Sojourner yang kecil pada 1997 dilanjutkan pada 2004 dengan kesuksesan yang lebih spektakuler oleh dua wahana penjelajah yang lebih tahan lama, Spirit dan Opportunity. Selama empat tahun perjalanan bertenaga surya di planet merah, kedua robot kembar itu mengirimkan citra dengan detail yang belum pernah ada sebelumnya, termasuk citra batuan yang jelas merupakan batuan sedimen, menandakan adanya laut purba. Foto-foto jernih bernuansa kemerahan seakan membawa pengamatnya ke permukaan Mars; jejak Spirit dan Opportunity yang menyerupai tangga itu mengular dan menyusup di antara bebatuan dan debu yang nyaris tak pernah terganggu sepanjang ribuan juta tahun di bawah langit merah dadu dan matahari seputih mutiara. Di tengah kesunyian yang tenteram ini, terobosan akibat rasa ingin tahu dan keperluan kita yang sistematis itu terasa heroik.
Sekarang misi Phoenix dengan tangan, serok, alat pencitraan, dan penganalisisnya yang lebih canggih membawa kita beberapa sentimeter ke bawah permukaan debu, pasir, dan es di daerah kutub utara Mars. Beberapa sendok zat dari planet lain itu, yang bahan-bahan kimiawinya diuapkan, disortir, dan diidentifikasi, menjadi rujukan tentang sejarah alam semesta. Sementara itu, Mars Reconnaissance Orbiter yang terbaru di antara ketiga pesawat ruang angkasa yang memutari planet tersebut, memasok komputer di University of Arizona dengan foto-foto bentuk permukaan yang jelas dan akurat. Beberapa citra dengan warna palsu ini tampak sangat abstrak, meski begitu sarat informasi ilmiah bagi orang yang berpengetahuan.
Planet mati tersebut ternyata sama sekali tidak mati: Salju longsor dan badai debu tertangkap oleh kamera dan di kutub sublimasi musiman dari es kering menciptakan erosi dan pergerakan. Bukit pasir berpindah; pusaran debu dan pasir membuat corat-coret gelap di permukaan yang halus. Bahkan dalam ketiadaan bukti kehidupan mikrob atau lumut kerak di dalam aliran informasi dari jauh tersebut, Mars telah menjadi tetangga yang semakin dekat, sebuah provinsi dari pengetahuan manusia. Wawasan kita yang redup dan penuh khayal tentang planet api yang berkelap-kelip tersebut telah membuahkan foto-foto panorama jarak dekat nan elok yang di luar bayangan kita sebelumnya
Pengguna Google Book Search Indonesia Kalahkan China dan Malaysia
Data tersebut diungkapkan oleh Erik Hartmann, Strategic Partner Development Google, saat mempresentasikan Google Book Search pukul 09.00 pagi tadi (6/3) di Gedung PBMM (Penerbit Buku Kompas Gramedia), Palmerah Selatan. Kedatangan Erik, perwakilan Google dari Singapura itu, dalam rangka memenuhi undangan 'Diskusi Terbatas Google - PBMM', yang dimoderatori oleh Edi Taslim dari Kompas.com.
"Teknologi selalu berubah dan ini baru terjadi pada kami, yaitu sebuah model baru bisnis teknologi," tutur Erik kepada Kompas.com seusai presentasi. "Dan kami berterima kasih kepada para penerbit di grup Gramedia yang telah begitu aktif mengirimkan data-data buku mereka kepada kami," tambahnya.
Erik mengatakan, hadirnya Google Book Search ini bukan tidak mungkin semakin menyemarakkan nadi bisnis bidang penerbitan di Indonesia. "Kemungkinan itu besar sekali mengingat online channel di Indonesia juga terus mengalami perkembangan yang signifikan, baik itu dari sisi kebijakan, jumlah provider, serta media yang bermain di industri ini," tambahnya.
Terkait perkembangan tersebut, Erik menyontohkan prospek industri penjualan buku online di AS tahun lalu. Penjualan online mampu mencetak angka 13 persen, hanya selisih 5 persen lebih kecil dari penjualan langsung di toko buku. Jualan online tersebut bahkan mampu mengalahkan penjualan di klub baca buku yang hanya mencapai 5 persen.
"Dan tentu saja, penjualan dengan cara ini akan membuat strategi pemasaran para penerbit akan semakin luas, apalagi tidak perlu biaya untuk calon konsumen mengaksesnya," tandas Erik.
Jumat, 06 Maret 2009
Hillary ke Israel Upayakan Perdamaian Timur Tengah
Namun karena saat ini Israel masih dalam proses pembentukan pemerintahan baru, beberapa pihak memperkirakan tidak ada kemajuan signifikan yang akan dicapai.
Hillary sendiri tiba di Israel dari Mesir, tempat AS bersama lembaga donor internasional sepakat untuk mengucurkan dana sebesar 4,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 5,3 triliun) untuk membangun kembali Gaza.
Berbicara mengenai perundingan di Sharm el-Sheikh tersebut, Hillary menegaskan pemerintahan baru AS berkomitmen untuk membantu pembentukan pemerintahan Palestina. Hillary juga berusaha menunjukkan komitmen pribadinya bagi tercapainya perdamaian walaupun memang dibutuhkan kesabaran.
Di Jerusalem, Hillary memiliki waktu dua hari untuk memulai pembahasan mulai hari ini, sebelum dia dijadwalkan bertemu dengan Mahmoud Abbas pemimpin otoritas Palestina, PLO, di Tepi Barat pada hari Rabu.
Meskipun AS adalah sekutu terdekat Israel, ada kekhawatiran akan munculnya potensi selisih antara dua negara tersebut. Calon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sepertinya tidak akan sepakat dengan solusi konflik Gaza. Sementara itu AS mengkritisi Israel yang terus membangun pemukiman Yahudi di Tepi Barat.
Wartawan BBC di Timur Tengah, Tim Franks, mengatakan hubungan antara AS dan Israel sepertinya akan sedikit mendingin. Dia juga memperkirakan nada diplomasi AS kini akan lebih terdengar agak mengutuk pembangunan Israel di Tepi Barat tersebut, senada dengan pandangannya dalam membahas Hamas yang menguasai Jalur Gaza. AS mengatakan bahwa Hamas adalah organisasi teroris dan menolak berunding dengan mereka.
AS sendiri tak ingin dana 900 juta dollar yang disumbangkan untuk pembangunan kembali Gaza dan pemerintah Palestina sampai ke tangan Hamas. Serangan militer Israel pada Desember dan Januari lalu telah menewaskan 1.300 warga Palestina dan 412 adalah anak-anak.
Serangan itu juga menghancurkan ribuan rumah dan gedung-gedung. Dalam operasi militernya itu, hanya 13 warga Israel yang terbunuh. Pihak Israel beralasan operasi militer untuk menghentikan serangan roket dari Gaza. Saat berbicara di Mesir, Hillary berkata dia sangat terganggu karena serangan masih terus berlangsung.
Menurut laporan AFP, pada Senin malam, misalnya, sebuah roket diluncurkan dari Jalur Gaza dan mendarat di desa Ashkelon di selatan Israel. Tak ada yang terluka atau rusak akibat serangan ini. Masih menurut AFP, terhitung sejak keduanya menyepakati gencatan senjata 18 Januari silam, tak kurang 120 roket telah diluncurkan dari Jalur Gaza.
